
Lebak,CNO – Warga Kampung Kaum Lebak tepatnya di RT 02 RW 08, Kelurahan Muara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten menjerit, karena setiap hujan turun air masuk kedalam rumah warga. Kondisi yang sangat memperihatinkan tersebut sudah berjalan hampir 15 tahun.
RT 02 Kampung Kaum Lebak Aprijal mengatakan bahwa pihaknya beberapa bulan yang lalu sudah melayangkan surat Proposal kepada pihak Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Lebak, bahkan hingga ditembuskan kepada pihak DPRD. Namun, hingga saat ini belum ada realisasi perbaikan.
“Di Kampung Kaum Lebak ini setiap hujan turun pasti air masuk kedalam rumah dan terjadi banjir bahkan, kondisi ini sudah terjadi hampir 15 tahun. Saya juga sudah berupaya dengan cara melayangkan surat proposal permohonan kepada Dinas Perkim bahkan saya tembusakan kepada Bupati Lebak, Ketua DPRD Lebak dan pihak Kecamatan Rangkasbitung dan kepada pihak Kelurahan agar ada perbaikan di wilayah kami, namun hingga saat ini belum juga diperbaiki,” ujar Aprijal pada awak media, Minggu 11 Januari 2026.
April meminta agar Dinas terkait peduli terhadap warga Kaum Lebak khususnya yang terdampak bajir di RT 02 RW 08. Kata ia, semua warga memiliki hak yang sama dimata pemerintah daerah Kabupaten Lebak, ia memohon agar pemerintah peduli dan memperhatikan warga serta memberikan rasa adil terhadap warga.
“Dengan melihat kondisi seperti ini, setiap kali turun hujan air masuk kedalam rumah warga, barang-barang rumah kebanjiran, kotoran juga masuk kedalam rumah. Tentu, kondisi ini sangatlah miris dan saya sangat merasa perihatin padahal Kampung Kaum Lebak lokasinya berada di Jantung Kota tidak jauh dari Kantor Pemerintahan Kabupaten Lebak,”kata Aprijal.
Aprijal juga mengatakan bahwa isi peromohonan Proposal yang diberikan kepada Dinas Perkim itu berisi permohonan perubahan saluran atau pembuatan Drainase yang baru.
Karena, kata ia, pembangunan yang di inisiai dengan Jargon “Kotaku” itu tidak berjalan dan saluran airnya tidak berfungsi sehingga terjadi penyumbatan air.
“Kami berharap agar permohonan proposal kami untuk perbaikan Drainase ini segera direaliasikan oleh Pemerintah melalui Dinas Perkim. Karena, selain air yang telah menyumbat itu masuk kerumah-rumah warga, juga dikhawatirkan menimbulkan penyakit dari sampah atau kotoran yang bercampur dengan air,”katanya.
Ia juga berharap pemerintah segera meninjau lokasi rumah warga yang terkena banjir serta air yang menyumbat di wilayah tersebut.
“Selama ini tidak pernah ada pihak dari pemerintah yang peduli dan melakukan peninjauan terhadap kondisi kami. Mereka hanya meminta info-info saja, tentu kami sudah bosan dengan kondisi seperti ini. Jadi, sekali lagi kami meminta dan memohon agar pemerintah segera melakukan perbaikan,”harapnya.
Sementara itu, Heru warga setempat yang terkena banjir mengaku sudah lelah dan bosan dengan kondisi tersebut.
“Sebelum ada program Kotaku ini sudah terjadi banjir dan setelah ada Program Kotaku juga tetap saja banjir bahkan saat ini lebih parah. Kami juga heran, kenapa tidak ada sama sekali kepekaan dan kepedulian dari pemerintah dengan kondisi kami yang sangat lelah karena sering kebanjiran. Rumah kami kena kotoran yang mungkin bercampur dengan air dan bahkan kalau ini dibiarkan bisa juga berpotensi rumah saya dan rumah warga sekitar hancur karena sering terkena air. Dengan ada media kami berterima kasih, dan saya harap dapat mendorong kepada pemerintah agar segera memperbaiki saluran air ini, karena kami sudah lelah dan sudah bosan dengan kondisi ini,”kata Heru.
Omo




We use cookies to improve your experience on our site. By using our site, you consent to cookies.
Manage your cookie preferences below:
Essential cookies enable basic functions and are necessary for the proper function of the website.
These cookies are needed for adding comments on this website.
Statistics cookies collect information anonymously. This information helps us understand how visitors use our website.
Google Analytics is a powerful tool that tracks and analyzes website traffic for informed marketing decisions.
Service URL: policies.google.com
Tidak ada komentar