
JAKARTA, CNO – Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, sisa Saldo Anggaran Lebih (SAL) di Bank Indonesia (BI) hanya Rp 120 triliun.
Diketahui, SAL adalah tabungan pemerintah yang berasal dari sisa anggaran tahun-tahun sebelumya.
Dikutip dari kompas.com, Purbaya menjelaskan, sebenarnya total SAL pemerintah di BI mencapai Rp 420 triliun. Namun, Rp 200 triliun akan dipindahkan ke perbankan Himbara.
Kemudian, sekitar Rp 100 triliun dana pemerintah akan ditambahkan ke Himbara.
“Rp 200 penempatan di bank, saya tambah lagi Rp 100 triliun, sisa masih Rp 100 triliun (Rp 120 triliun) di BI,” kata Purbaya, dilansir dari Kontan, Senin (6/4/2026). Dengan begitu, total SAL yang tersisa saat ini di BI adalah Rp 120 triliun.
Kondisi perekonomian RI sangat tidak aman Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, sisa SAL pemerintah di BI Rp 120 triliun terbilang sangat tipis.
Padahal, SAL memiliki fungsi untuk fiscal buffer dari cash flow.
Bhima menjelaskan, pada dasarnya cash flow lebih penting dari potensi penerimaan pajak sepanjang tahun. Hal ini karena belanja rutin, belanja bunga utang, belanja subsidi energi memerlukan cash.
“Nah, fungsi SAL ini adalah untuk fiscal buffer,” ungkap Bhima, Selasa (7/4/2026).
“Sekarang kalau sisa (SAL) cuma Rp 120 triliun artinya dalam situasi terburuk penerimaan pajaknya kembali turun atau penerbitan surat utang juga makin terkendala kondisi geopolitik, appetite investor juga menurun misalnya masuk ke emerging market. Maka yang diandalkan adalah SAL. Nah, SAL-nya tinggal tipis,”
Dia khawatir kondisi ini dapat berdampak pada perekonomian RI.
“Khawatir ini akan mengarah pada kekeringan likuiditas dari sisi pemerintah dan akan menghambat pelayanan publik, belanja rutin, subsidi energi, dan program-program yang esensial,” imbuh Bhima.
Melihat potensi tersebut, Bhima mewanti-wanti kondisi perekonomian RI saat ini. Menurutnya, sisa SAL pemerintah Rp 120 triliun di BI menandakan kondisi yang tidak baik-baik saja.
Khawatir ini akan mengarah pada kekeringan likuiditas dari sisi pemerintah dan akan menghambat pelayanan publik, belanja rutin, subsidi energi, dan program-program yang esensial,” imbuh Bhima.
Melihat potensi tersebut, Bhima mewanti-wanti kondisi perekonomian RI saat ini. Menurutnya, sisa SAL pemerintah Rp 120 triliun di BI menandakan kondisi yang tidak baik-baik saja.
“Sangat tidak aman, rapuh,” tutur Bhima.
Untuk menghadapi perekonomian saat ini, Bhima menyarankan agar pemerintah menghentikan pinjaman Himbara menggunakan SAL
Khawatir ini akan mengarah pada kekeringan likuiditas dari sisi pemerintah dan akan menghambat pelayanan publik, belanja rutin, subsidi energi, dan program-program yang esensial,” imbuh Bhima.
Melihat potensi tersebut, Bhima mewanti-wanti kondisi perekonomian RI saat ini. Menurutnya, sisa SAL pemerintah Rp 120 triliun di BI menandakan kondisi yang tidak baik-baik saja.
“Sangat tidak aman, rapuh,” tutur Bhima.
Jangan gegabah menggunakan SAL untuk kredit,” kata Bhima.
Menurutnya, penyaluran dana sebesar Rp 200 triliun ke Himbara tidak memberikan efek pertumbuhan kredit UMKM.
Oleh karena itu, penambahan dana untuk Himbara dari alokasi SAL dinilai merupakan kebijakan yang kurang tepat.
“Karena gini, SAL bisa ditarik kapanpun misalnya kalau sudah di Bank Himbara. Masalahnya adalah Bank Himbara menyalurkan ke kredit korporasi, kredit program, seperti Koperasi Merah Putih dan MBG,” kata Bhima.
Meski demikian, dia memperkirakan hasil audit Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), defisit anggaran 2025 akan lebih rendah menjadi sekitar 2,8 persen.
Hal ini akan menambah dana pemerintah di Bank Indonesia.
“Itu memberikan ruang, jadi ada dana tidak dipakai. Itu memberikan tambahan tahun ini SAL-nya. Di satu sisi itu jelek karena saya gagal bisa ngabisin uang, tetapi di sisi lain bagus ketika ada seperti ini kami masih ada tambahan bantalan tadi. Jadi anggaran kami aman,” ucapnya.

We use cookies to improve your experience on our site. By using our site, you consent to cookies.
Manage your cookie preferences below:
Essential cookies enable basic functions and are necessary for the proper function of the website.
These cookies are needed for adding comments on this website.
Statistics cookies collect information anonymously. This information helps us understand how visitors use our website.
Google Analytics is a powerful tool that tracks and analyzes website traffic for informed marketing decisions.
Service URL: policies.google.com
Tidak ada komentar