TRENDING

Pekerjaan Rehabilitasi Irigasi DI Cisiih Tak Tuntas di Akhir 2025, Petani Situregen Mengeluh

3 menit membaca View : 50
REDAKSI
Berita - 02 Jan 2026

LEBAK CNO– Proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi di Daerah Irigasi (DI) Cisiih, Kabupaten Lebak, Banten, menuai sorotan tajam. Hingga akhir tahun 2025, proyek strategis di bawah Kementerian Pekerjaan Umum ini belum rampung sepenuhnya dan diduga dikerjakan asal-asalan.

Kondisi ini memicu keluhan para petani di Desa Situregen yang menggantungkan hidup pada ketersediaan air irigasi. Akibat pengerjaan yang belum selesai, distribusi air ke lahan persawahan terganggu, padahal pada waktu sosialisasi/ musyawarah di kantor desa, mitra cai di janjikan 2 bulan petani sudah bisa menggarap lahannya.

Meski sebagian petani sudah ada yang menanam, namun mayoritas belum bisa turun ke sawah karena pasokan air tidak memadai,” ujar KK seorang warga kampung Cipurun saat ditemui di lokasi, Rabu (31/12/2025).

KK juga menuturkan, Kami selaku mitra cai, ingin ikut kerja aja susah, padahal ini rumah Kami, pelaksana malah bawa pekerja dari luar, seperti kebanyakan pekerja dari kabupaten Sukabumi, ujarnya.

Selain kendala teknis, proyek ini juga diterpa isu kesejahteraan pekerja. Berdasarkan pantauan lapangan, aktivitas di lokasi proyek tampak sepi karena banyak pekerja yang memilih berhenti akibat upah yang belum dibayarkan oleh pihak pelaksana/subkon.

“Banyak upah yang belum dibayar, bahkan ada yang sudah menunggak dua minggu. Sekarang hanya tinggal beberapa orang saja yang bertahan bekerja, sisanya berhenti,” terang JA salah satu warga setempat yang sudah berhenti bekerja karena sebagian upahnya belum di bayar.

Hasil penelusuran di lokasi menunjukkan masih banyak titik yang belum tersentuh pengerjaan. Titik-titik yang mengalami longsor pun terpantau belum mendapatkan penanganan sama sekali.

Warga juga menuding kualitas pekerjaan jauh dari standar. Perbaikan diduga hanya bersifat kosmetik, seperti sekadar plesteran dan acian pada bagian yang terkelupas dan tembok yang mengalami retak, bahkan, pada bagian lantai dasar selokan dan sudut lantan dan dinding masih banyak yang bocor, juga ditemukan titik-titik yang tidak dipasang lantai permanen.

Warga juga sangat menyayangkan, lumpur yang di rngkat dari lantai, itu di taro di atas badan saluran, di kala hujan turun, otomatis masuk lagi ke badan selokan, itu sama saja pekerjaan yang mubajir, tandasnya.

Selain itu,hanya dilakukan pengangkatan lumpur saja.sementara masih banyak beberapa jenis matrial yang menumpuk, mulai dari split giling, pasir, besi, tidak tahu akan dipasang atau tidak,” tambah warga tersebut.

Mirisnya lagi material batu dan pasir diduga diambil langsung dari sungai setempat. Pekerja yang bertugas mengambil material tersebut mengaku dijanjikan upah Rp100.000 per hari, namun hingga kini pembayaran mereka pun masih menggantung. Bahkan batu – batu tersebut banyak yang sudah terpasang, tapi tidak di pecah, tandasnya lagi.

Berdasarkan papan informasi di lokasi, proyek ini merupakan bagian dari Rehabilitasi Jaringan Irigasi APBN Tahun 2025 di bawah naungan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWSC3), Kementerian Pekerjaan Umum.

Berikut rincian data proyek tersebut:
Kontraktor Pelaksana: PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
Konsultan Teknis: PT Agrinas Palma Nusantara.
Nilai Kontrak: Rp136,2 Miliar.
Masa Kerja: 360 Hari Kalender (Terhitung sejak 26 September 2025).

Sampai berita ini terpublish, tim media masih berupaya melakukan konfirmasi ke pihak kotraktor selaku pemenang tender.

Sementara Hanip, selaku PPK sampai saat ini susah untuk di hubungi, padahal media sangat butuh keterangan dari seorang Pejabat Pembuat Kebijakan tersebut.

Didin kaka

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights